Kembali ke Humanistic studies, pertemuan pertama sedikit disinggung mengenai menghargai budaya, kepercayaan, dan adat orang lain. Kebetulan sekali pada saat orientasi kemarin ada beberapa adik tingkat yang mengungkit-ungkit mengenai budaya terutama budaya berbicara. Maklum di kampus ini sebaran mahasiswanya merata ada yang dari Jawa, Sunda, Betawi, Bali, Lampung, Palembang, Kalimantan dan banyak lagi. Nah pada saat orientasi itu seorang adik tingkat bertanya mengenai kewajiban menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena menurut dia ada banyak teman yang mempergunakan bahasa loe gue gue padahal itu bukan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku yang saat itu tengah berada di depan forum menjawab dengan sebisa mungkin tidak memihak. Aku menjawab bahwa memang bahasa tersebut tidak patut dipergunakan ketika forum resmi ataupun berbicara secara formal, akan tetapi apabila teman-teman mempergunakan dalam bahasa sehari-hari yang memang diantara mereka sudah menganggap itu biasa, maka bahasa loe gue gue itu tidak jadi masalah, hargai saja budaya yang sudah tumbuh di kota ini karena bagaimanapun kita adalah pendatang yang tidak berhak melarang penggunaan bahasa mereka. Lalu kemudian mahasiswa lain menanggapi jawaban saya dengan volume yang sedikit tinggi. Dia berkata“ Kita memang perlu menghargai bahasa mereka. Namun perlu diketahui juga mbak, sebagian dari kami berasal dari daerah dimana aksen kedaerahannya masih kental dalam berbahasa Indonesia. Dan meski ini tanah Betawi, kami harap mereka tidak menertawakan kami saat berbicara dan menghargai budaya asal kami”. Luar biasa sekali pikirku saat itu, pergolakan budaya dalam diri mereka telah menimbulkan gejolak. Dan apabila mereka tidak cepat-cepat belajar Humanistic Studies bisa-bisa ada perang adat di SSE ini. Namun jangan khawatir, ekspektasiku kala itu segera luntur saat aku mengenang masa-masa awalku di Jakarta. Memang awalnya seperti itu, akan ada gap budaya dan akan ada saling cibir-mencibir. Namun dengan berjalannya waktu dan dengan penanaman sikap saling menghargai oleh SSE, perlahan tapi pasti gap budaya itu hilang dengan sendirinya. Buktinya adalah sikapku saat ini yang sudah jauh berbeda dengan sikapku pada awalnya. Dan apabila mereka telah sampai di semester tiga seperti aku sekarang, kesadaran saling menghargai keberagaman itu benar-benar sudah tumbuh subur. kenapa aku dapat berkata demikian? Karena pertemuan pertama dengan bidang studi ini memang sudah membuka lebar mataku bahwa disini loh nantinya kamu akan belajar sikap saling toleransi dan menghargai keberagaman.
Dan andai saja aku sudah belajar cara-cara menanggapi keberagaman budaya dan agama pada saat akan menjawab pertanyaan adik tingkat itu, aku pasti sudah memberikan jawaban yang memuaskan mereka sekaligus menentramkan gejolak mereka. Itulah kenapa bagiku belajar Humanistic Studies ini penting karena bidang studi ini akan mengupas tuntas mengenai keberagaman.
Resource of picture: http://monang245.files.wordpress.com/2010/07/indonesiaku.jpg?w=390&h=567