Welcome

Selamat Datang Teman-teman Tercinta..
yuk saling berbagi mengenai kebudayaan kita yang beragam ini..

Kamis, 17 Maret 2016

Choice and It's Consequence

18-3-2016
Satu hari setelah pengumuman seleksi lesson plan matematika di sebuah institusi tersohor disini. I have no information whether i was choosen or not. Yang pasti beberapa hari yang lalu, Ibu T CP acara tersebut menghubungiku dan bertanya apakah aku cuti kerja atau bagaimana. Aku jawab dengan jujur bahwa aku resign dan bertanya apakah hal tersebut tidak memenuhi persyaratan. There’s no clue, beliau menjawab  “terima kasih atas konfirmasinya”. And that’s it. Dreaming about having award is gone.
Kenapa acara ini penting? Aku menargetkan acara ini sebagai salah satu pencapaian yang bisa aku banggakan dalam satu tahun ini. Tidak! Bahkan dari dulu aku sudah berhadap ada acara semacam ini sehingga aku bisa ikut berpartisipasi dan bertemu dengan pendidik inovatif yang sama-sama berkecimpung dibindang matematika-global-dan bahasa Inggris. Sebuah asa yang telah di ukir jauh sebelum aku benar-benar tahu bahwa acara semacam ini exist. Unfortunately, aku mendaftar acara ini sebagai peserta non-guru. Oh atau memang sebenarnya tidak untuk non-guru. Aku tidak tahu, yang aku tahu di bagian eligibility ada salah satu pilihan “indonesian citizenship”. Ada sebuah harap disana, berharap statusku tidak dipermasalahkan. Ah, nyatanya toh itu jadi batu penghalang juga. Padahal baru beberapa bulan lalu aku resign demi kuliahku.
Flashback.
6 Desember 2015, aku pulang ke Wonogiri, membawa semua harta benda dan harga diri pulang ke desa. Saat itu statusku belum diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di kotaku dan aku baru saja resign pada 30 November. Pada pengumuman dua hari sebelum kepulanganku, aku gagal masuk program pascasarjana. Lagi-lagi masalahnya sederhana, bukan karena aku gagal di tes. Sertifikat S1 sementaraku tidak diterima pihak kampus baruku. Saat itu juga, Head of mathematics department tempatku bekerja menanyakan perihal diterima tidaknya aku di program pascasarjana. Maklum, saat hari-hari terakhirku bekerja, beliau menanyakan bagaimana rencanaku ke depan jika aku gagal diterima. Kesimpulan yang aku buat adalah beliau memintaku kembali bekerja disana, dan kalaupun aku diterima, 2 tahun setelahnya aku juga dipersilakan kembali. Sungguh! Anugerah Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Sebuah sekolah dengan titel internasional yang mengantongi segudang prestasi dan nama yang  
Singkat cerita, aku mengikuti tes kedua dan aku diterima. Menjalani mimpi baru dikotaku. Kemudian membuat mimpi baru lainnya. Aku ingin bekerja sambilan. Tentu saja sebagai guru di sekolah yang bonafit, karena aku juga mantan guru di sekolah yang terkenal. Agakny aku selalu menge-set mimpi yang tinggi saat itu. Setiap orang yang mendengar rencanaku apply ke beberapa sekolah bonafit di Solo (baiklah kusebut juga nama kota ini), mereka berkata tidak mungkin. Mereka terus menghujaniku dengan doktrin bahwa hanya orang-orang yang memiliki hubungan dengan orang dalam lah yang bisa diterima bekerja. Ah aku tak ambil pusing, toh ketika aku di Jakarta, aku tumbuh dengan mempercayai segala kemungkinan, dan itu berhasil. karena aku tidak mempunyai hubungan dengan orang dalam, aku membuatnya ada. Menghubungi mereka via Linked, meskipun tidak berhasil. Aku tidak berhenti mencoba, aku apply instansi lain, via google dan email. Seleksi masuk entah bersama berapa calon guru, yang pasti aku hanya serius mencoba. Dan aku diterima.
Menjalani kerja di 7 to 12 dan kuliah di 1 to 5, dengan seabrek tugas dan tes yang tidak mau kompromi dengan waktuku yang hanya dari jam 7 to 10 malam. 3 jam menghanyutkan diri dalam keduanya. Hingga pada akhir aku menyadari performaku yang kurang baik di kuliah, dengan harus mendapati angka 3.34 saja. Disisi lain, perkejaan juga ikut protes karena aku tidak bisa full time in, padahal dengan penuh komitmen aku mendahulukan pekerjaan, beberapa kali bolos demi acara sekolah dan sebagian besar waktu aku berikan untuk pekerjaan. Tapi aku juga tidak bisa bohong, aku mengiyakan keinginanku untuk rehat di sabtu minggu. Seharusnya waktu itu bisa kugunakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum terselesaikan, tapi aku malah memilih istirahat. Aku sama sekali tidak menyalahkan pilihanku bekerja, aku menyalahkan pilihanku untuk terlalu santai di akhir pekan. Pada akhirnya aku harus memilih salah satu dari dunia kerja dan kuliah, aku memilih kuliah dengan pertimbangan semakin aku serius, aku bisa menelaah ilmu yang lebih dalam.
Kemudian kuliah berjalan lancar, aku memperbaiki beberapa hal hingga mendapatkan kartu hasil sudi yang didominasi nilai A. Syukur alhamdulillah.
You are free to choose, but you are not free from the consequences.
Ya, dan konsekuensi yang aku punya tiba disaat ini. Ketika aku berkali-kali mendaftarkan diri mengikuti acara seminar, konferensi, bahkan partisipasi seperti pada acara yang kusebutkan di awal cerita ini, aku harus mengerti bahwa mereka akan menolakku. Ditolak karena aku tidak punya homebase instansi. Tidak apa! Itu wajar. 


Rabu, 11 Januari 2012

Bolehka Saya Mengenalmu Dengan Cara Berbeda?


Pada akhirnya sayapun harus menulis bagian yang satu ini. Esai ini merupakan esai penutup di mata kuliah Humanistic Studies semester 3. Rasanya baru kemarin saya menuliskan ekspektasi saya akan mata kuliah yang satu ini, dan ternyata sekarang saatnya untuk menutup serangkaian esai tersebut dengan apa yang telah saya ‘dapatkan’ selama kurang dari satu semester itu.

Berangkat dari rasa ingin membuktikan bahwa apa yang saya pegang selama ini tidak perlu dipersalahkan, saya antusias mengikuti alur pembelajaran Humanistic. Setiap pertemuan dikemas agar saya mampu berpikir secara mandiri mengenai konsep diri dan agama saya. Saya menyukai cara dosen membangun konsep itu kedalam diri masing-masng tanpa berkata kami harus seperti ini seperti itu. Kami dibawa untuk ‘melihat’ dengan jernih bahwa segala sesuatu itu memiliki berbagai sisi sehingga kami harus berhati-hati dalam beranggapan dan berucap. Hilir dari keseluruhan proses itu adalah pembentukan jati diri saya baik secara konsep keyakinan maupun konsep pemikiran terhadap lingkungan.


Pada masa-masa awal kuliah, saya disalahkan secara frontal oleh seorang teman muslim saya, saya diserbu dengan pernyataan-pernyataan dibarengi ayat-ayat suci yang mendikte kesalahan-kesalahan saya. Kesalahan itu sederhana karena saya tidak mengenakan penutup kepala yang katanya diwajibkan agama saya. Saat itu saya tidak melaksanakan apa yang teman saya sarankan karena bagi saya, saya memiliki pendapat lain mengenai konsep kepercayaa dan konsep diri saya. Hanya saja saat itu saya tidak cukup ide untuk membuktikan padanya bahwa saya tidak salah.

Humanistic datang sebagai oase kehidupan saya. Humanistic membawa saya mantap membangun konsep diri saya dan lingkungan saya.“Siapapun kamu dan apapun yang kamu yakini, itu semua adalah benar asal dasarnya adalah kasih sayang”.

Mulai saat menyelami Humanistic, saya memantapkan kembali konsep diri saya. Selagi saya melakukan apa yang saya anggap benar sesuai hati dan pikiran saya, maka saya anggap saya tidak mengkhianati Allah. Dasar dari perilaku saya sebenarnya bukan tunggal dari agama, akan tetapi tercampur adat, norma-norma yang berlaku, dan muara dari semua itu adalah pemikiran saya sendiri. Sayapun hidup atas dasar Allah, dan saya juga tumbuh dengan budaya sebagai identitas saya. Saya tidak mau terfokus pada satu sisi karena bagi saya, individu adalah sesorang yang memiliki berbagai sisi kehidupan yang sebenarnya dari sanalah individu membangun makna kehidupannya.

Satu momen yang merupakan titik balik kemantapan diri saya dalam beragama. Natal tahun ini merupakan awal saya kembali menyatakan selamat kepada saudara-saudara lain agama, setelah hampir 7 tahun saya berhenti mengucapkannya. Saya terhenti karena suatu ancaman dari sahabat muslim akan azab merayakan hari besar agama lain. Saat itu saya belum mampu berpikir kritis sehingga saya mengiyakan dan mulai menjauhi sahabat-sahabat kristiani saya.

Sekarang ini setelah mengetahui bagaimana konsep yang lebih ‘klik’ dengan hati saya, saya merindukan keharmonisan persahabatan itu. Saya ingat betul bagaimana teman kristiani saya berusaha menahan lapar ketika bergaul dengan saya saat Ramadhan. Saya juga ingat bagaimana dia mengingatkan saya sholat ketika bepergian, dan dia selalu setia menunggu saya di pelataran masjid. Keharmonisan itu sangat indah, keharmonisan itulah yang kemudian saya utamakan kembali.   

Bebarengan dengan tumbuhnya kembali rasa toleransi yang sangat kuat itu, rupanya kekaguman saya terhadap Tuhan berbanding lurus peningkatannya. Saya mengenal Tuhan sebagai zat yang lebih dekat dengan saya. Saya menemukan sosok Tuhan yang adil dan tidak memaksa saya, ya memang dari mulanya saya beranggapan bahwa Tuhan itu adil dan tidak memaksa, tapi sikap adil dan tidak memaksa yang saya maksudkan ini adalah lebih kepada cara Tuhan masuk kedalam hati saya dengan lebih halus.

Saya berharap bahwa akan ada lebih banyak orang yang mampu membuka matanya mengenai apa itu konsep diri, keyakinan, dan toleransi. Karena sejujurnya saya sakit hati apabila ada Deshinta-Deshinta lain yang seperti dipersalahkan oleh agama dia sendiri.

Dan untuk Humanistic, saya berterima kasih kepada anda karena telah membukakan jalan untuk saya serta mungkin telah membukakan mata teman-teman saya. Apabila boleh saya ingin usulkan ada mata pelajaran yang serupa di semester pertama, karena saya rasa disaat itulah sedang ada transisi budaya yang gejolaknya terkadang luar biasa. Dan terus tingkatkan pemberian contoh dalam bentuk video karena sangat menarik dan mudah dipahami apabila kenyataan langsung di suguhkan di depan mahasiswa.

“Agama itu urusan saya dengan yang diatas, sedangkan lingkungan itu baru urusan saya dengan anda” (Argaswari, 2012)



Rabu, 07 Desember 2011

Tuhan dihatiku


Tuhan itu ada dihati. Tuhanmu dan Tuhanku berbeda tapi Tuhan itu satu. Dalam aturannya memang kepercayaan terhadap Tuhan adalah suatu kekekalan, aturan yang dimaksudkan disini adalah aturan dalam agama saya. Ya. Saya percaya adanya Tuhan, saya percaya bahwa apapun di dunia ini telah disusun oleh-Nya.
Lalu bagaimana saya mempercayai aturan lain yang katanya aturan Tuhan? Memang saya berpegang pada kitab suci. Dan sayapu menyakini apa yang kitab suci katakan selagi saya dapat melogikakan hal tersebut. Bukan karena saya tidak sepenuhnya percaya pada Tuhan, bukan seperti itu, tunggu dulu. Bagi saya Tuhan itu maha sempurna, Dia mengaruniakan saya seseuatu yang lain dari pada yang lain, yaitu otak yang alhamdulillah dapat berfungsi degan baik. Otak saya menuntun daya untuk dapat berpikir bahkan dari berbagai sisi dengan segala aspek, luar biasa dan saya sangat bersyukur akan hal tersebut. Otak membuahkan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya tak terbatas, otak membuat saya berpikir bahwa segala sesuatu memang memiliki nilainya sendiri-sendiri itulah mengapa ketika saya harus mempercayai setiap ayat dari Alquran saya mengatakan tunggu dulu. Saya akan pergunakan hati serta pemikiran saya untuk mencerna dan menelaah hal tersebut.
Kelihatannya aneh? Kalau anda seorang muslim pasti anda akan secara lantang mengatakan saya orang kafir, tapi lagi-lagi tunggu dulu! Agama di dunia ini ada bermacam-macam kan? Bukan hanya lima loh, ada sangat banyak. Menurut hemat saya hal tersebut terjadi ya karena setiap individu punya kepala masing-masing, jadinya pemikiran akan suatu hal saja sangat berbeda. Satu hal saja sangat berbeda kawan, dan pemikiran itu sifatnya mandiri tidak dapat dipaksakan. Kau percaya Tuhan? Kau percaya bahwa Tuhan maha sempurna? Kau yakin apapun pemberian Tuhan adalah yang terbaik? 100% saya percaya hal itu, dan pemikiran merupakan salah satunya. Saya berada di jalan saya untu meyakini kekekalan Tuhan, saya menyukuri setiap hal yang diberikan, dan saya pergunakan secara baik hal yang saya punya tersebut. Secara instan begini, apabila ayat dalam Al Quran menyatakan A, maka saya harus memikirkannya terlebih dahulu, baikkah? Burukkah? Apa yang dapat saya peroleh? Apakah nyaman untuk saya dan apakah membawa mudarat bagi saya? Itlah yang terjadi dalam diri saya. Saya tidak mengkhianati Tuhan, saya amat percaya kepada-Nya, sehingga saya manfaatkan apapun yang Dia beri, karena saya yakin itulah yang terbaik.
Sebagai seorang calon guru, saya sadar bahwa kepercayaan sifatnya lembut dan tidak dapat dipaksakan. Seperti halnya kecerdasan, kita sebagai guru diajarkan untuk menghargai keunikan setiap anak yang kita ajar, kita dilatih untuk tidak memaksakan anak mampu memperoleh pencapaian tinggi daam matematika, kenaApa? Karena kita tahu bahwa anak memiliki banyak kecerdasan lain selain berhitung,  berhitung hanyalah satu dari beberapa kecerdasan. Dengan tanpa memaksakan hal tersebut, maka anak akan merasa nyaman belajar dan tidak merasa memiliki beban. Seperti halnya agama dimata saya, setiap aturan didalamnya tidak perlu dipaksakan! Karena saya punya keyakinan yang lebih mendasar di aturan lainnya dan saya dapat berpikir sendiri baik burukkah hal tersebut. Saya percaya Islam dan saya percaya Allah, itulah kenapa saya hargai setiap buah pemikiran yang uncu ketika menghadapo setiap hal dan tak terkecuali aturan dalam agama.
Tuhan itu ada dihati, tidak perlu diumbar dan dipertanyakan. Tuhan tidak pernah menyakiti karena Tuhan hanya menguji. Tuhan bukan seorang guru galak yang memaksakan kehendaknya, namun Tuhan adalah guru kehidupan yang mampu mengajak saya untuk menerima kenyataan dan memikirkan setiap aspek didalamnya. Tuhan ada dihati saya, pedoman saya dalam hidup di dunia ini.

Rabu, 02 November 2011

Saya Islam

“ Saya Islam, namun saya tidak memakai kerudung”

Itulah yang pertama tersirat dibenak saya ketika akan mendeskripsikan identitas saya terhadap identitas yang ada. Saya memang seorang muslim yang telah mempercayai agama Islam ini sedari kecil. Orang tua saya beragama Islam dan kami tinggal di Jawa Tengah. Orang tua tidak pernah memaksa saya untuk beragama Islam, hanya saja lingkungan saya disana memang mayoritas Islam. Sejak lahir saya hidup dengan agama ini, membuat saya nyaman dan merasakan damai setiap mengingat unsur di dalamnya. Nenek saya yang tidak berkerudung dan merupakan lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) agama Islam pun acap kali bertutur mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam agama Islam, saya merasa dekat dengan agama ini. Saya kemudian memantapkan hati memeluk agama ini karena saya percaya akan adanya Allah. Saya berkembang dalam naugan agama Islam dan adat Jawa yang mendarah daging dalam diri saya. 

Saya memang beragama Islam namun saya juga memiliki identitas lain, sehingga ketika serta merta orang berkhotbah mengenai penggunaan kerudung terhadap wanita, saya memilih jalan saya sendiri. Saya merupakan orang Jawa, dimana pada adatnya memang tidak ada paksaan untuk memakai kerudung. Sayapun bukan berkeinginan untuk tidak menghormati amanat, saya hanya memiliki persepsi lain mengenai aturan menutup aurat ini. Memilih agama saja bukan sebuah paksaan, jadi untuk menyamakan persepsi keyakinan pastilah setiap insan memiliki hak untuk memilih dan memilah. Saya merasa amanat yang dimaksudkan dapat saya jalani cukup dengan memperhatikan pakaian yang saya kenakan, menjaga kesopanan dan kesantunan dalam berpenampilan. Saya sadar bahwa ketika permasalahan identitas ini terjadi orang akan berpikir bahwa saya tidak menaati aturan Islam karena adat Jawa. Akan tetapi pada dasarnya ini kembali kepada pribadi saya sendiri dimana saya memiliki dua identitas yang sama-sama kental dalam diri saya. Saya tidak dapat meninggalkan satu sama lain dan aturan di keduanya penting bagi saya, akan tetapi saya memiliki hak untuk memilih, saya memiliki hak untuk menjadi orang Jawa namun berfondasi  Islam. Sebuah poin penting dalam kepercayaan yang saya anut adalah mengenai tingkah laku saya sebagai seorang hamba Allah bukan dalam bentuk fisiknya saja. 

Saya memilih untuk belum mengenakan kerudung, namun di dalam hati saya Allah adalah satu-satunya dzat yang saya sembah. Saya tidak menyembah benda-benda ataupun melakukan sesaji karena saya hanya percaya Allah, akan tetapi disinipun ketika saya harus mengikuti upacara adat, saya sebatas melestarikan bukan bermaksud untuk menduakan Allah. 
 
Bagi saya permasalahan identitas seseorang ini begitu kompleks. Kita tidak dapat mengadili secara sepihak mengenai siapakah orang tersebut, karena dibalik pilihannya pasti seseorang memiliki berbagai pertimbangan yang menyangkut identitas diri masing-masing. Kita hanya perlu memahami dan menghormati pilihan pribadi masing-masing karena itulah keberagaman yang dapat mempersatukan dan memperkaya kita.  

Senin, 03 Oktober 2011

Nama oh Nama, Sarat akan Makna


Apalah Arti Sebuah Nama?
“Weiitss.. jangan salah bro, nama itu sangat berarti. Mau lo jalan kemana, nama itu jadi identitas lo.” Mungkin hal itu yang akan saya ucapkan apabila mendengar pertanyaan “Apalah arti sebuah nama?”, mungkin ya J.
Hmm.. Sudah dari dulu, geram rasanya ingin menceritakan asal muasal nama saya yang kontroversional itu, yang katanya nama orang sekampung lah, atau seperti kereta lah.  Ah, akhirnya sekarang simak baik-baik tulisan saya

Nama saya Deshinta Puspa Ayu Dwi Argaswari, cukup panjang akan tetapi saya sangat bangga dan menghargai arti agung nama saya tersebut. Pernah suatu ketika saat saya kelas 6 SD saat mengisi data murid di rumah, saya bertanya pada Ibu dan Bapak saya kenapa nama saya panjang, saya kan jadi susah menulis identitas di ujian atau catatan penting lainnya.
Bapak saya menjawab dengan jawaban yang cukup mengagetkan saya “ sebenarnya namamu bukan itu sin, sesaat setelah dilahirkan namamu Deshinta Dwi Anggraini. Kemudian keluarga Ibumu datang menjengukmu dan memberi banyak usulan, setelah berpikir panjang akhirnya saat kamu berusia 7 hari namamu diganti dengan namamu yang sekarang.” Terbesit rasa menyesal dalam diri saya, andai saat itu saya sudah dapat berbicara maka saya akan usul pada Ibu dan Bapak saya untuk mempergunakan nama Deshinta Dwi Anggaraini saja. Namun ketika saya menelusuri dalam-dalam arti nama saya yang panjang itu, saya menemukan sesuatu yang luar biasa; nama yang diberikan ini sangat agung maknanya dan memiliki  nilai histori yang tinggi akan keluarga bagi saya.
Apabila diperhatikan, nama saya tersusun atas istilah-istilah jawa kecuali kata Des. Sehingga pastilah orang menebak saya orang jawa, dan jawaban itu pasti benar. Iya, saya lahir disebuah kabupaten bernama wonogiri. Wono artinya sawah sedang giri artinya gunung. Dari nama kabupaten inilah salah satu frase nama saya bersumber. Argaswari, sebuah nama pemberian almarhumah eyang saya, beliau berkata pada Ibu saya bahwa Argaswari adalah nama yang sakral baginya karena itu merupakan nama teman terbaiknya yang memiliki budi sangat luhur dan baik hati. Menurut beliau nama ini cocok untuk saya yang kebetulan lahir di daerah gunung, dalam bahasa jawa gunung memiliki padan kata dengan arga dan giri, sedang argaswari sendiri memiliki arti putri gunung. Jadi beliau berharap agar saya yang merupakan putri gunung dapat memiliki budi pekerti luhur seperti sahabatnya tersebut. sebenarnya ingin rasanya saya bertanya lebih mendalam mengenai arti nama ini karena saya tidak pernah menemukan frase kata ini dalam semua buku-buku jawa yang saya baca. Saat melakukan pencarian di internet-pun saya tidak menemukan jawabannya. Sesungguhnya frase nama ini masih misterius dalam benak saya.
Sedangkan untuk frase nama lain, lumayan mudah untuk diterjemahkan. Des berasal dari nama bulan lahir saya yaitu Desember. Puspa adalah bunga dan ayu adalah cantik, arti frase ini adalah bunga yang cantik. Sebagai seorang wanita, keluarga saya berharap saya akan tumbuh menjadi jelita yang cantik luar dan dalam seperti bunga yang akan selalu cantik dimanapun ia tumbuh karena ia sudah memilik karakter cantik dari dalam sehingga dimanapun ia tumbuh maka pesona kecantikannya akan selalu terpancar. Dan dwi menyiratkan angka dua yang berarti saya merupakan anak kedua.
Jadi Deshinta Puspa Ayu Dwi Argaswari merupakan putri gunung yang cantik sebagai ikrar bunga jelita dimana ia merupakan titisan kedua yang lahir dibulan Desember.
Syukurnya, arti nama yang indah dan panjang ini masih sesuai dengan perilaku saya. Dan saya berharap saya benar-benar dapat berkembang seperti sebuah bunga: wangi dan canik, dan yang terpenting kecantikan di dalamnya begitu murni dan tulus.
Nama ini sangat bermakna bagi saya, karena ini merupakan identitas saya sebagai seorang jawa yang adi luhur. Identitas ini melekat dalam diri saya sebagai sebuah simbol keagungan keluarga saya di sana. Sungguh sebuah nama itu sarat akan makna dan sejarah, dan saya sangat menghargai setiap nama di dunia ini karena saya yakin selalu ada maksud khusus dibalik penciptaan nama tersebut. Lalu bagaimana dengan namamu? Apakah kau sudah dapat mengungkap misteri di dalamnya?



Tulisan ini saya dedikasikan kepada kedua orang tua saya tercinta, dan almarhumah eyang saya

Minggu, 25 September 2011

Humanistic Studies

“Humanistic Studies” kalau dibahasa Indonesia-kan jadi belajar kemanusiaan. Bayanganku pada saat pertama bertemu dengan mata kuliah ini adalah “wah sepertinya pelajaran PPKN ini”. Akan tetapi bayangan itu berubah drastis setelah Pak Dosennya menjelaskan bahwa mata kuliah ini akan banyak mempelajari budaya dan agama, dan yang lebih pasti lagi, pelajaran ini tidak akan seperti pelajaran PPKN yang banyak hafalan itu. Pak Dosen meyakinkan kami bahwa pelajaran ini akan menjadi pelajaran yang menarik dan mengesankan karena SSE yang mengemasnya. Wah rasanya bangga sekali aku belajar disini, tempat dimana pikiran dan bakat dibiarkan berkembang bahkan didukung dengan suasana kampus yang selalu menanamkan sikap saling menghargai.  
Kembali ke Humanistic studies, pertemuan pertama sedikit disinggung mengenai menghargai budaya, kepercayaan, dan adat orang lain. Kebetulan sekali pada saat orientasi kemarin ada beberapa adik tingkat yang mengungkit-ungkit mengenai budaya terutama budaya berbicara. Maklum di kampus ini sebaran mahasiswanya merata ada yang dari Jawa, Sunda, Betawi, Bali, Lampung, Palembang, Kalimantan dan banyak lagi. Nah pada saat orientasi itu seorang adik tingkat bertanya mengenai kewajiban menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena menurut dia ada banyak teman yang mempergunakan bahasa loe gue gue padahal itu bukan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku yang saat itu tengah berada di depan forum menjawab dengan sebisa mungkin tidak memihak. Aku menjawab bahwa memang bahasa tersebut tidak patut dipergunakan ketika forum resmi ataupun berbicara secara formal, akan tetapi apabila teman-teman mempergunakan dalam bahasa sehari-hari yang memang diantara mereka sudah menganggap itu biasa, maka bahasa loe gue gue itu tidak jadi masalah, hargai saja budaya yang sudah tumbuh di kota ini karena bagaimanapun kita adalah pendatang yang tidak berhak melarang penggunaan bahasa mereka. Lalu kemudian mahasiswa lain menanggapi jawaban saya dengan volume yang sedikit tinggi. Dia berkata“ Kita memang perlu menghargai bahasa mereka. Namun perlu diketahui juga mbak, sebagian dari kami berasal dari daerah dimana aksen kedaerahannya masih kental dalam berbahasa Indonesia. Dan meski ini tanah Betawi, kami harap mereka tidak menertawakan kami saat berbicara dan menghargai budaya asal kami”. Luar biasa sekali pikirku saat itu, pergolakan budaya dalam diri mereka telah menimbulkan gejolak. Dan apabila mereka tidak cepat-cepat belajar Humanistic Studies bisa-bisa ada perang adat di SSE ini. Namun jangan khawatir, ekspektasiku kala itu segera luntur saat aku mengenang masa-masa awalku di Jakarta. Memang awalnya seperti itu, akan ada gap budaya dan akan ada saling cibir-mencibir. Namun dengan berjalannya waktu dan dengan penanaman sikap saling menghargai oleh SSE, perlahan tapi pasti gap budaya itu hilang dengan sendirinya. Buktinya adalah sikapku saat ini yang sudah jauh berbeda dengan sikapku pada awalnya. Dan apabila mereka telah sampai di semester tiga seperti aku sekarang, kesadaran saling menghargai keberagaman itu benar-benar sudah tumbuh subur. kenapa aku dapat berkata demikian? Karena pertemuan pertama dengan bidang studi ini memang sudah membuka lebar mataku bahwa disini loh nantinya kamu akan belajar sikap saling toleransi dan menghargai keberagaman.
Dan andai saja aku sudah belajar cara-cara menanggapi keberagaman budaya dan agama pada saat akan menjawab pertanyaan adik tingkat itu, aku pasti sudah memberikan jawaban yang memuaskan mereka sekaligus menentramkan gejolak mereka. Itulah kenapa bagiku belajar Humanistic Studies ini penting karena bidang studi ini akan mengupas tuntas mengenai keberagaman. 


Resource of picture: http://monang245.files.wordpress.com/2010/07/indonesiaku.jpg?w=390&h=567

Senin, 20 Desember 2010

Batik Wonogiren

Nggak cuma pekalongan,Solo,ataupun Jogja loh yang punya batik... nih, Wonogiri juga punya.. mau tau lebih lanjut. check it out!!


Batik Wonogiri tercipta sekitar tahun 1960an, awalnya proses pembuatan batik ini terpusat di Tirtomoyo, tepatnya kawasan Dlepih. Motif Batik Wonogiren ini mengadaptasi motif mangkunegaran. Ya maklumlah, Wonogiri itu dulunya wilayah kekuasaan Mangkunegaraan. Ceritanya panjang kali lebar, kalau mau tahu lebih lanjut komentar di tulisan ini. Nah balik ke batik wonogiren, karena memang satu darah dengan Surakarta jadi nggak jauh bedalah motif batiknya. Motif batik ini merupakan satu dari tujuh motif batik larangan loh, maksudnya motif batik keraton yang tidak boleh dikenakan oleh kaum biasa. Tapi itu dulu ya, kalau sekarang mau pakai batik Wonogiren, justru bikin bangga,, iya kan bangga menunjukkan identitas warisan budaya yang nggak semua daerah punya. Bangganya lagi ini motif batik yang langka.

Dan ini dia ciri khas batik Wonogiren yaitu punya guratan/pecahan, selain itu biasanya coraknya besar-besar. kalau menurut Keputusan Bupati Wonogiri Nomor 431/03/501/1993, batik Wonogiren dibakukan cirinya melalui empat hal, yaitu corak bledak, dasaran jene (kuning kecokelatan), sekaran (lukisan bunga), dan babaran (guratan) pecah.

Meskipun mengadaptasi motif Surakarta, motif batik Wonogiren memiliki keunikan tersendiri, selain proses pewarnaan yang lebih tebal, motif-motifnya lebih mengekspresikan alam. ya, ini dikarenakan batik ini berkembang di kawasan pedesaan. beberapa contohnya adalah motif Keladi, Jemani, Gelendong kayu, Serat kayu. 

Batik Wonogiren memang spesial, kolaborasi nuansa keraton yang kental dengan alam. seperti seorang puteri keraton yang tumbuh di alam bebas jauh dari keluarga, namun tetap tumbuh dengan cantik dan menawan. Itulah keindahan satu fase budayaku hari ini. oleh-oleh saat pulang kampung..
 
resource:
http://www.facebook.com/pages/Batik-Wonogiren/101479486578013?v=wall#!/pages/Batik-Wonogiren/101479486578013
http://batikonlinesolo.wordpress.com/2009/09/14/batik-wonogiren/#wpl-likebox
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiixyp1dlPwdyEJ4E5zjs2cJECfqhH8dRTcawPHIufwvApLGZR5iZ98SfG6zM-TbeQrr7oJFIRYm2sC2-89y6PXsBzM4z-IVbL6G1DijEWbl3PWmljN-gKJiryHu9sNArgXDTzDMnKNsLY/s1600-h/S4020436.jpg