Welcome

Selamat Datang Teman-teman Tercinta..
yuk saling berbagi mengenai kebudayaan kita yang beragam ini..

Kamis, 17 Maret 2016

Choice and It's Consequence

18-3-2016
Satu hari setelah pengumuman seleksi lesson plan matematika di sebuah institusi tersohor disini. I have no information whether i was choosen or not. Yang pasti beberapa hari yang lalu, Ibu T CP acara tersebut menghubungiku dan bertanya apakah aku cuti kerja atau bagaimana. Aku jawab dengan jujur bahwa aku resign dan bertanya apakah hal tersebut tidak memenuhi persyaratan. There’s no clue, beliau menjawab  “terima kasih atas konfirmasinya”. And that’s it. Dreaming about having award is gone.
Kenapa acara ini penting? Aku menargetkan acara ini sebagai salah satu pencapaian yang bisa aku banggakan dalam satu tahun ini. Tidak! Bahkan dari dulu aku sudah berhadap ada acara semacam ini sehingga aku bisa ikut berpartisipasi dan bertemu dengan pendidik inovatif yang sama-sama berkecimpung dibindang matematika-global-dan bahasa Inggris. Sebuah asa yang telah di ukir jauh sebelum aku benar-benar tahu bahwa acara semacam ini exist. Unfortunately, aku mendaftar acara ini sebagai peserta non-guru. Oh atau memang sebenarnya tidak untuk non-guru. Aku tidak tahu, yang aku tahu di bagian eligibility ada salah satu pilihan “indonesian citizenship”. Ada sebuah harap disana, berharap statusku tidak dipermasalahkan. Ah, nyatanya toh itu jadi batu penghalang juga. Padahal baru beberapa bulan lalu aku resign demi kuliahku.
Flashback.
6 Desember 2015, aku pulang ke Wonogiri, membawa semua harta benda dan harga diri pulang ke desa. Saat itu statusku belum diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di kotaku dan aku baru saja resign pada 30 November. Pada pengumuman dua hari sebelum kepulanganku, aku gagal masuk program pascasarjana. Lagi-lagi masalahnya sederhana, bukan karena aku gagal di tes. Sertifikat S1 sementaraku tidak diterima pihak kampus baruku. Saat itu juga, Head of mathematics department tempatku bekerja menanyakan perihal diterima tidaknya aku di program pascasarjana. Maklum, saat hari-hari terakhirku bekerja, beliau menanyakan bagaimana rencanaku ke depan jika aku gagal diterima. Kesimpulan yang aku buat adalah beliau memintaku kembali bekerja disana, dan kalaupun aku diterima, 2 tahun setelahnya aku juga dipersilakan kembali. Sungguh! Anugerah Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Sebuah sekolah dengan titel internasional yang mengantongi segudang prestasi dan nama yang  
Singkat cerita, aku mengikuti tes kedua dan aku diterima. Menjalani mimpi baru dikotaku. Kemudian membuat mimpi baru lainnya. Aku ingin bekerja sambilan. Tentu saja sebagai guru di sekolah yang bonafit, karena aku juga mantan guru di sekolah yang terkenal. Agakny aku selalu menge-set mimpi yang tinggi saat itu. Setiap orang yang mendengar rencanaku apply ke beberapa sekolah bonafit di Solo (baiklah kusebut juga nama kota ini), mereka berkata tidak mungkin. Mereka terus menghujaniku dengan doktrin bahwa hanya orang-orang yang memiliki hubungan dengan orang dalam lah yang bisa diterima bekerja. Ah aku tak ambil pusing, toh ketika aku di Jakarta, aku tumbuh dengan mempercayai segala kemungkinan, dan itu berhasil. karena aku tidak mempunyai hubungan dengan orang dalam, aku membuatnya ada. Menghubungi mereka via Linked, meskipun tidak berhasil. Aku tidak berhenti mencoba, aku apply instansi lain, via google dan email. Seleksi masuk entah bersama berapa calon guru, yang pasti aku hanya serius mencoba. Dan aku diterima.
Menjalani kerja di 7 to 12 dan kuliah di 1 to 5, dengan seabrek tugas dan tes yang tidak mau kompromi dengan waktuku yang hanya dari jam 7 to 10 malam. 3 jam menghanyutkan diri dalam keduanya. Hingga pada akhir aku menyadari performaku yang kurang baik di kuliah, dengan harus mendapati angka 3.34 saja. Disisi lain, perkejaan juga ikut protes karena aku tidak bisa full time in, padahal dengan penuh komitmen aku mendahulukan pekerjaan, beberapa kali bolos demi acara sekolah dan sebagian besar waktu aku berikan untuk pekerjaan. Tapi aku juga tidak bisa bohong, aku mengiyakan keinginanku untuk rehat di sabtu minggu. Seharusnya waktu itu bisa kugunakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum terselesaikan, tapi aku malah memilih istirahat. Aku sama sekali tidak menyalahkan pilihanku bekerja, aku menyalahkan pilihanku untuk terlalu santai di akhir pekan. Pada akhirnya aku harus memilih salah satu dari dunia kerja dan kuliah, aku memilih kuliah dengan pertimbangan semakin aku serius, aku bisa menelaah ilmu yang lebih dalam.
Kemudian kuliah berjalan lancar, aku memperbaiki beberapa hal hingga mendapatkan kartu hasil sudi yang didominasi nilai A. Syukur alhamdulillah.
You are free to choose, but you are not free from the consequences.
Ya, dan konsekuensi yang aku punya tiba disaat ini. Ketika aku berkali-kali mendaftarkan diri mengikuti acara seminar, konferensi, bahkan partisipasi seperti pada acara yang kusebutkan di awal cerita ini, aku harus mengerti bahwa mereka akan menolakku. Ditolak karena aku tidak punya homebase instansi. Tidak apa! Itu wajar.