“ Saya Islam, namun saya tidak memakai kerudung”
Itulah yang pertama tersirat dibenak saya ketika akan mendeskripsikan identitas saya terhadap identitas yang ada. Saya memang seorang muslim yang telah mempercayai agama Islam ini sedari kecil. Orang tua saya beragama Islam dan kami tinggal di Jawa Tengah. Orang tua tidak pernah memaksa saya untuk beragama Islam, hanya saja lingkungan saya disana memang mayoritas Islam. Sejak lahir saya hidup dengan agama ini, membuat saya nyaman dan merasakan damai setiap mengingat unsur di dalamnya. Nenek saya yang tidak berkerudung dan merupakan lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) agama Islam pun acap kali bertutur mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam agama Islam, saya merasa dekat dengan agama ini. Saya kemudian memantapkan hati memeluk agama ini karena saya percaya akan adanya Allah. Saya berkembang dalam naugan agama Islam dan adat Jawa yang mendarah daging dalam diri saya.
Saya memang beragama Islam namun saya juga memiliki identitas lain, sehingga ketika serta merta orang berkhotbah mengenai penggunaan kerudung terhadap wanita, saya memilih jalan saya sendiri. Saya merupakan orang Jawa, dimana pada adatnya memang tidak ada paksaan untuk memakai kerudung. Sayapun bukan berkeinginan untuk tidak menghormati amanat, saya hanya memiliki persepsi lain mengenai aturan menutup aurat ini. Memilih agama saja bukan sebuah paksaan, jadi untuk menyamakan persepsi keyakinan pastilah setiap insan memiliki hak untuk memilih dan memilah. Saya merasa amanat yang dimaksudkan dapat saya jalani cukup dengan memperhatikan pakaian yang saya kenakan, menjaga kesopanan dan kesantunan dalam berpenampilan. Saya sadar bahwa ketika permasalahan identitas ini terjadi orang akan berpikir bahwa saya tidak menaati aturan Islam karena adat Jawa. Akan tetapi pada dasarnya ini kembali kepada pribadi saya sendiri dimana saya memiliki dua identitas yang sama-sama kental dalam diri saya. Saya tidak dapat meninggalkan satu sama lain dan aturan di keduanya penting bagi saya, akan tetapi saya memiliki hak untuk memilih, saya memiliki hak untuk menjadi orang Jawa namun berfondasi Islam. Sebuah poin penting dalam kepercayaan yang saya anut adalah mengenai tingkah laku saya sebagai seorang hamba Allah bukan dalam bentuk fisiknya saja.
Saya memilih untuk belum mengenakan kerudung, namun di dalam hati saya Allah adalah satu-satunya dzat yang saya sembah. Saya tidak menyembah benda-benda ataupun melakukan sesaji karena saya hanya percaya Allah, akan tetapi disinipun ketika saya harus mengikuti upacara adat, saya sebatas melestarikan bukan bermaksud untuk menduakan Allah.
Bagi saya permasalahan identitas seseorang ini begitu kompleks. Kita tidak dapat mengadili secara sepihak mengenai siapakah orang tersebut, karena dibalik pilihannya pasti seseorang memiliki berbagai pertimbangan yang menyangkut identitas diri masing-masing. Kita hanya perlu memahami dan menghormati pilihan pribadi masing-masing karena itulah keberagaman yang dapat mempersatukan dan memperkaya kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar