Tuhan itu ada dihati. Tuhanmu dan Tuhanku berbeda tapi Tuhan itu satu. Dalam aturannya memang kepercayaan terhadap Tuhan adalah suatu kekekalan, aturan yang dimaksudkan disini adalah aturan dalam agama saya. Ya. Saya percaya adanya Tuhan, saya percaya bahwa apapun di dunia ini telah disusun oleh-Nya.
Lalu bagaimana saya mempercayai aturan lain yang katanya aturan Tuhan? Memang saya berpegang pada kitab suci. Dan sayapu menyakini apa yang kitab suci katakan selagi saya dapat melogikakan hal tersebut. Bukan karena saya tidak sepenuhnya percaya pada Tuhan, bukan seperti itu, tunggu dulu. Bagi saya Tuhan itu maha sempurna, Dia mengaruniakan saya seseuatu yang lain dari pada yang lain, yaitu otak yang alhamdulillah dapat berfungsi degan baik. Otak saya menuntun daya untuk dapat berpikir bahkan dari berbagai sisi dengan segala aspek, luar biasa dan saya sangat bersyukur akan hal tersebut. Otak membuahkan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya tak terbatas, otak membuat saya berpikir bahwa segala sesuatu memang memiliki nilainya sendiri-sendiri itulah mengapa ketika saya harus mempercayai setiap ayat dari Alquran saya mengatakan tunggu dulu. Saya akan pergunakan hati serta pemikiran saya untuk mencerna dan menelaah hal tersebut.
Kelihatannya aneh? Kalau anda seorang muslim pasti anda akan secara lantang mengatakan saya orang kafir, tapi lagi-lagi tunggu dulu! Agama di dunia ini ada bermacam-macam kan? Bukan hanya lima loh, ada sangat banyak. Menurut hemat saya hal tersebut terjadi ya karena setiap individu punya kepala masing-masing, jadinya pemikiran akan suatu hal saja sangat berbeda. Satu hal saja sangat berbeda kawan, dan pemikiran itu sifatnya mandiri tidak dapat dipaksakan. Kau percaya Tuhan? Kau percaya bahwa Tuhan maha sempurna? Kau yakin apapun pemberian Tuhan adalah yang terbaik? 100% saya percaya hal itu, dan pemikiran merupakan salah satunya. Saya berada di jalan saya untu meyakini kekekalan Tuhan, saya menyukuri setiap hal yang diberikan, dan saya pergunakan secara baik hal yang saya punya tersebut. Secara instan begini, apabila ayat dalam Al Quran menyatakan A, maka saya harus memikirkannya terlebih dahulu, baikkah? Burukkah? Apa yang dapat saya peroleh? Apakah nyaman untuk saya dan apakah membawa mudarat bagi saya? Itlah yang terjadi dalam diri saya. Saya tidak mengkhianati Tuhan, saya amat percaya kepada-Nya, sehingga saya manfaatkan apapun yang Dia beri, karena saya yakin itulah yang terbaik.
Sebagai seorang calon guru, saya sadar bahwa kepercayaan sifatnya lembut dan tidak dapat dipaksakan. Seperti halnya kecerdasan, kita sebagai guru diajarkan untuk menghargai keunikan setiap anak yang kita ajar, kita dilatih untuk tidak memaksakan anak mampu memperoleh pencapaian tinggi daam matematika, kenaApa? Karena kita tahu bahwa anak memiliki banyak kecerdasan lain selain berhitung, berhitung hanyalah satu dari beberapa kecerdasan. Dengan tanpa memaksakan hal tersebut, maka anak akan merasa nyaman belajar dan tidak merasa memiliki beban. Seperti halnya agama dimata saya, setiap aturan didalamnya tidak perlu dipaksakan! Karena saya punya keyakinan yang lebih mendasar di aturan lainnya dan saya dapat berpikir sendiri baik burukkah hal tersebut. Saya percaya Islam dan saya percaya Allah, itulah kenapa saya hargai setiap buah pemikiran yang uncu ketika menghadapo setiap hal dan tak terkecuali aturan dalam agama.
Tuhan itu ada dihati, tidak perlu diumbar dan dipertanyakan. Tuhan tidak pernah menyakiti karena Tuhan hanya menguji. Tuhan bukan seorang guru galak yang memaksakan kehendaknya, namun Tuhan adalah guru kehidupan yang mampu mengajak saya untuk menerima kenyataan dan memikirkan setiap aspek didalamnya. Tuhan ada dihati saya, pedoman saya dalam hidup di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar