Welcome

Selamat Datang Teman-teman Tercinta..
yuk saling berbagi mengenai kebudayaan kita yang beragam ini..

Rabu, 11 Januari 2012

Bolehka Saya Mengenalmu Dengan Cara Berbeda?


Pada akhirnya sayapun harus menulis bagian yang satu ini. Esai ini merupakan esai penutup di mata kuliah Humanistic Studies semester 3. Rasanya baru kemarin saya menuliskan ekspektasi saya akan mata kuliah yang satu ini, dan ternyata sekarang saatnya untuk menutup serangkaian esai tersebut dengan apa yang telah saya ‘dapatkan’ selama kurang dari satu semester itu.

Berangkat dari rasa ingin membuktikan bahwa apa yang saya pegang selama ini tidak perlu dipersalahkan, saya antusias mengikuti alur pembelajaran Humanistic. Setiap pertemuan dikemas agar saya mampu berpikir secara mandiri mengenai konsep diri dan agama saya. Saya menyukai cara dosen membangun konsep itu kedalam diri masing-masng tanpa berkata kami harus seperti ini seperti itu. Kami dibawa untuk ‘melihat’ dengan jernih bahwa segala sesuatu itu memiliki berbagai sisi sehingga kami harus berhati-hati dalam beranggapan dan berucap. Hilir dari keseluruhan proses itu adalah pembentukan jati diri saya baik secara konsep keyakinan maupun konsep pemikiran terhadap lingkungan.


Pada masa-masa awal kuliah, saya disalahkan secara frontal oleh seorang teman muslim saya, saya diserbu dengan pernyataan-pernyataan dibarengi ayat-ayat suci yang mendikte kesalahan-kesalahan saya. Kesalahan itu sederhana karena saya tidak mengenakan penutup kepala yang katanya diwajibkan agama saya. Saat itu saya tidak melaksanakan apa yang teman saya sarankan karena bagi saya, saya memiliki pendapat lain mengenai konsep kepercayaa dan konsep diri saya. Hanya saja saat itu saya tidak cukup ide untuk membuktikan padanya bahwa saya tidak salah.

Humanistic datang sebagai oase kehidupan saya. Humanistic membawa saya mantap membangun konsep diri saya dan lingkungan saya.“Siapapun kamu dan apapun yang kamu yakini, itu semua adalah benar asal dasarnya adalah kasih sayang”.

Mulai saat menyelami Humanistic, saya memantapkan kembali konsep diri saya. Selagi saya melakukan apa yang saya anggap benar sesuai hati dan pikiran saya, maka saya anggap saya tidak mengkhianati Allah. Dasar dari perilaku saya sebenarnya bukan tunggal dari agama, akan tetapi tercampur adat, norma-norma yang berlaku, dan muara dari semua itu adalah pemikiran saya sendiri. Sayapun hidup atas dasar Allah, dan saya juga tumbuh dengan budaya sebagai identitas saya. Saya tidak mau terfokus pada satu sisi karena bagi saya, individu adalah sesorang yang memiliki berbagai sisi kehidupan yang sebenarnya dari sanalah individu membangun makna kehidupannya.

Satu momen yang merupakan titik balik kemantapan diri saya dalam beragama. Natal tahun ini merupakan awal saya kembali menyatakan selamat kepada saudara-saudara lain agama, setelah hampir 7 tahun saya berhenti mengucapkannya. Saya terhenti karena suatu ancaman dari sahabat muslim akan azab merayakan hari besar agama lain. Saat itu saya belum mampu berpikir kritis sehingga saya mengiyakan dan mulai menjauhi sahabat-sahabat kristiani saya.

Sekarang ini setelah mengetahui bagaimana konsep yang lebih ‘klik’ dengan hati saya, saya merindukan keharmonisan persahabatan itu. Saya ingat betul bagaimana teman kristiani saya berusaha menahan lapar ketika bergaul dengan saya saat Ramadhan. Saya juga ingat bagaimana dia mengingatkan saya sholat ketika bepergian, dan dia selalu setia menunggu saya di pelataran masjid. Keharmonisan itu sangat indah, keharmonisan itulah yang kemudian saya utamakan kembali.   

Bebarengan dengan tumbuhnya kembali rasa toleransi yang sangat kuat itu, rupanya kekaguman saya terhadap Tuhan berbanding lurus peningkatannya. Saya mengenal Tuhan sebagai zat yang lebih dekat dengan saya. Saya menemukan sosok Tuhan yang adil dan tidak memaksa saya, ya memang dari mulanya saya beranggapan bahwa Tuhan itu adil dan tidak memaksa, tapi sikap adil dan tidak memaksa yang saya maksudkan ini adalah lebih kepada cara Tuhan masuk kedalam hati saya dengan lebih halus.

Saya berharap bahwa akan ada lebih banyak orang yang mampu membuka matanya mengenai apa itu konsep diri, keyakinan, dan toleransi. Karena sejujurnya saya sakit hati apabila ada Deshinta-Deshinta lain yang seperti dipersalahkan oleh agama dia sendiri.

Dan untuk Humanistic, saya berterima kasih kepada anda karena telah membukakan jalan untuk saya serta mungkin telah membukakan mata teman-teman saya. Apabila boleh saya ingin usulkan ada mata pelajaran yang serupa di semester pertama, karena saya rasa disaat itulah sedang ada transisi budaya yang gejolaknya terkadang luar biasa. Dan terus tingkatkan pemberian contoh dalam bentuk video karena sangat menarik dan mudah dipahami apabila kenyataan langsung di suguhkan di depan mahasiswa.

“Agama itu urusan saya dengan yang diatas, sedangkan lingkungan itu baru urusan saya dengan anda” (Argaswari, 2012)



1 komentar:

  1. Wow! Refleksi yang sangat dalam. Tidak banyak orang mampu melakukan refleksi semacam ini. Mari terus berproses menjadi muslim yang lebih baik.

    BalasHapus